Beranda Media Informasi Berita dan Artikel 3 LINES MODEL DALAM TATA KELOLA TERINTEGRASI DEMI WUJUDKAN ORGANIZATIONAL RESILIENCE YANG KOKOH DAN MENYELURUH

3 LINES MODEL DALAM TATA KELOLA TERINTEGRASI DEMI WUJUDKAN ORGANIZATIONAL RESILIENCE YANG KOKOH DAN MENYELURUH

13 Feb 2024
110
VIEWS

Jakarta – PT Perta Life Insurance mengadakan kegiatan Sharing Session yang mengusung tema “3 Lines Model Dalam Tata Kelola Terintegrasi” dengan menghadirkan narasumber Direktur Utama Dana Pensiun Pertamina, Arief Wibowo yang berlangsung di Ballroom PertaLife Insurance Lantai 12, pada Senin (13/02/2024).

Governance, Risk, and Compliance (GRC) menjadi elemen krusial dalam struktur organisasi, mencakup manajemen risiko, pengendalian internal, dan kepatuhan terhadap regulasi. GRC tidak hanya sebuah kewajiban untuk mematuhi peraturan, tetapi juga menjadi kerangka kerja strategis yang mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan bisnis.

Direktur Utama Dana Pensiun Pertamina, Arief Wibowo menjelaskan tentang pentingnya penerapan Good Corporate Governance untuk memperkuat Confidence Level Perusahaan. Oleh karenanya Perusahaan perlu control system agar berjalan sesuai dengan tata kelola yang baik, Kementerian BUMN telah membuat Governance Guidance melalui Peraturan Menteri BUMN Nomor-PER-2/MBU/03/2023 Tentang Pedoman Tata Kelola Dan Kegiatan Korporasi Signifikan Badan Usaha Milik Negara, ini merupakan guidance bagi Perusahaan untuk melaksanakan Governance Process sebagai braking system yang akan memberikan value bagi Perusahaan sehingga harapannya Direktur Utama, Direksi, dan Komisaris akan confidence bahwa Perusahaan akan mencapai objektifnya dengan cepat.

Berdasarkan regulasi tersebut, maka Perusahaan diwajibkan menerapkan Model Tata Kelola Risiko Tiga Lini (Three Lines Model) dalam melaksanakan Manajemen Risiko. Lini Pertama sebagai Unit Pemilik Risiko yang langsung mengidentifikasi dan mengelola risiko dalam proses bisnis. Lini Kedua sebagai Fungsi Manajemen Risiko dan kepatuhan independen yang mengukur, memantau, dan memperlakukan risiko secara agregat, mengembangkan metodologi dan kebijakan manajemen risiko Perusahaan, dan terakhir Lini Ketiga sebagai Fungsi Audit Internal yang memastikan tata kelola dan pengendalian risiko diterapkan secara efektif oleh Perusahaan.

 “Melihat perubahan-perubahan pola bisnis saat ini membuat Perusahaan harus mampu untuk tetap survive, perlu kita pahami bahwa setiap Perusahaan akan selalu berubah dan perubahan itu diinginkan oleh stakeholders supaya Perusahaan dapat profit lebih tinggi dan tidak ada sentimen-sentimen negatif sehingga tidak akan kalah dalam berkompetisi. Hal tersebut perlu dipahami oleh PertaLife Insurance, siapa kompetitornya apalagi di Industri Asuransi yang banyak dinamika, top and down, dan harus mampu meraih market dan posisi,” jelas Arief Wibowo.

Direktur Utama PertaLife Insurance, Hanindio W. Hadi menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya acara ini. Menurutnya, Sharing Session ini sangat penting karena memastikan bahwa operasional Perusahaan berjalan dengan baik dan sesuai prosedur, untuk itu Perusahaan perlu menerapkan secara konsisten dengan melakukan mitigasi risiko. Saat ini, PertaLife Insurance telah mengembangkan Risk Register yang mencatat semua risiko dalam kegiatan operasional dari seluruh divisi, kemudian ditetapkan secara komprehensif bersama upaya mitigasi risiko. Langkah ini dianggap penting untuk mengurangi potensi risiko yang timbul. Sebagai response, Perusahaan memiliki control system melalui Internal Audit.

“Fungsi Internal Audit  dan Risk Management ini bukan sebagai rem, justru dengan melaksanakan Internal Audit dan Risk Management yang proper laju kendaraan kita dalam melaksanakan operasional Perusahaan akan semakin cepat bukan lambat, serta tidak melenceng dan tidak perlu ngerem mendadak yang membuat panik penumpangnya. Kami bersyukur karena memiliki tim yang begitu serius yang dipimpin oleh Bapak Agung N. Soedibyo sebagai Komisaris Independen yang membawahi Komite Audit (KA), serta Bapak Bambang Triono sebagai Komisaris Independen yang membawahi Komite Pemantau Risiko (KPR) yang sudah sangat berpengalaman,” ungkap Hanindio.PLI


Latest News